#01 Jodohku Ditikung Azal




Ruangan 4x2 itu kini penuh dengan asap rokok dan aroma kopi yang khas. Kopi hitam tanpa gula. Di tempat inilah aku dan teman-teman yang lain menghabiskan waktu istirahat dengan berkumpul santai, sembari menghabiskan sisa-sisa rokok dan sarapan pagi yang belum tuntas. Ruangan ini biasa kami sebut dengan sebutan Pantry. Ruangan dengan lebar dua meter dan panjang empat meter yang satu setengah meternya di halangi oleh kayu yang biasa kami gunakan untuk bersimpuh sujud kepada sang Kholiq. Kini ruangan ini menjadi tempatku dan teman-teman untuk mencari solusi dan inspirasi dari masalah-masalah yang terjadi. Hari ini yang berada di Pantry hanya aku, Adam, Danil, dan sang guru Kepala sekolah.

“gue mah heran sama kelas 12, masa iya ada yang nanya gini, pak kenapa undang-undang itu disebutnya undang-undang 45? Kenapa nggak 47 atau 48 gtu? Kenapa 45?” tanya Adam mengawali percakapan

“mungkin dia bercanda pak” jawabku santai

“nggak pak, emang dia bener-bener gak tahu maksud dari angka 45 itu” jawab Adam serius,

“terus jawab pak Adam apa?” tanyaku

“aku gak jawab. Sebelum aku jawab ada anak lain yang menjawab” jawab Adam dengan ekspresi mesem yang menggambarkan kegembiraannya saat ia menceritakan siapa yang menjawab

“apa jawabannya?” tanyaku penasaran

“dia bilang ‘ya karena dibuatnya pada tahun 1945, jadi disebutnya undang-undang 45’. Saat anak itu selesai menjawab anak-anak yang lain tertawa terbahak-bahak. Bukan karena jawabannya, tetapi karena mimik mukanya yang lucu sehingga membuat satu kelas itu ramai dengan tawa” jawab Adam sambil memperagakan ekspresi yang ia maksud, aku pun tertawa. Tapi tidak dengan Danil, dia terlalu asyik menghisap kreteknya. Biasanya dia lebih ceria tapi kali ini dia menjadi pendiam dan cenderung banyak melamun, padahal kita tahu dia baru saja melamar gadis impiannya, dan akan segera menikah pada bulan November nanti.

“lo kenapa Nil?” tanyaku kepada Danil

“tidak papa, emang gue kenapa?” tanya Danil balik, tapi tetap dengan ekspresi wajah yang murung

“lah ndak tahu ko tanya saya” jawabku dengan nada suara presiden. Hanya Adam yang tertawa, sementara Danil masih di alam imajinya. Aku dan Adam saling bercerita tentang kelas yang baru saja kita masuki, sementara Danil masih saja melamun, sampai-sampai dia lupa kopi yang tadinya panas kini sudah menjadi dingin. Tapi masih lebih dingin sikapnya yang sekarang.

Ditengah pecakapanku dengan Adam yang seru, aku menceritakan tentang muridku yang dia bercita-cita menjadi peternak domba, Adam juga menceritakan tanggapan kelas sepuluh tentang hukum yang berlaku di indonesia

“ternyata kelas sepuluh itu lebih peka ya pak dibanding dengan kelas 12” ucap Adam membuka cerita baru

“maksudnya gimana tuh pak?” tanyaku antusias

“iya, kita tadi di kelas kan belajar tentang Ideologi, mulai dari definisi dan juga fungsi bla bla bla, segalam macam yang terkait dengan Ideologi. Saya terangkan bahwa secara keseluruhan Ideologi itu banyak, namun yang paling besar itu hanya ada tiga. Pertama Nasionalisme, Komunisme, dan Islam. Lalu saya terangkan ke tiga Ideologi tersebut berikut contohnya. Setelah saya dan anak-anak berdiskusi panjang tentang Ideologi lalu ada yang berpendapat begini ‘berarti pak sekarang Indonesia itu sebetulnya tidak berideologi ideologinya sendiri dong?’. Saya jawab ‘maksudnya bagaimana Thoriq?’. ‘kan katanya negeri kita ini berideologikan Pancasila. Diawali dengan sila pertama ketuhanan yang maha esa, dan di tutup dengan sila ke lima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Katanya ketuhanan yang maha esa tapi masih banyak juga masyarakat yang tak bertuhan, yang kedua katanya kemanusiaan yang adil dan beradab, tapi faktanya banyak sekarang anak yang membunuh orang tuanya, orang tua yang membunuh anaknya, anak yang mempenjarakan gurunya, ibunya, bapaknya. Ada nenek-nenek mencuri singkong karena kelaparan di penjara, tapi yang malingnya triliunan dia aman-aman saja, ya walaupun di proses tapi akhirnya kan di potong juga masa tahanan nya. Dan banyak lagi yang seperti itu, apakah itu beradab dan adil?. Saya juga kaget pak, ada ya anak kelas sepuluh tapi kepekaannya terhadap isu-isu politik sudah seperti para mahasiswa yang aktif di bidang itu” Adam menggelengkan kepala

“terus pak Adam jawab apa?” tanyaku tak sabaran

“saya tak sempat menjawab pak, sebelum dia sampai kepada sila kelima, suara bell pergantian mata pelajaran terdengar nyaring menghentikan kelas saya. Saya hanya bilang begini. Oke anak-anak, ini pertanyaan yang sangat menarik untuk dibahas, tetapi waktu kita sudah selesai untuk hari ini. Jadi untuk pembahasan yang ini kita simpan dulu, silahkan kalian pelajari lagi apa yang barusan kita bahas dan diskusikan, lalu kalian juga siapkan dan pelajari apa yang barusan di tanyakan Thoriq. Kita akan bahas pada pertemuan berikutnya. Setelah itu saya tutup dan saya pergi ke kelas berikutnya” jawab Adam mengakhiri cerita

“yahhh, saya penasaran mau denger kelanjutannya, malah di tutup. Gimana ini pak Adam” jawabku kecewa

Obrolan ku dengan Adam hanya sampai disitu. Sebeleum akhirnya Adam pergi lebih dulu untuk bersiap melanjutkan tugasnya karena waktu istirahat sudah selesai. Sementara Aku, Danil dan pak Kepala sekolah masih berada di Pantri untuk menunggu jam pelajaran berganti.

“pak, boleh saya bertanya?” tanya Danil kepada pak Mujib (kepala sekolah)

“lah itu kamu udah nanya” jawab pak Mujid bercanda. Walaupun pak Mujid sangat misterius, terkadang dia juga suka bercanda di beberapa waktu

“iya, udah itu aja” jawab Danil kecewa. Tak biasanya dia seperti itu. Biasanya kalau ada yang bercanda maka dia akan menjawabnya dengan candaan lebih kocak lagi

“iya pak Danil ada apa? Gak biasanya seperti ini, meni loyo” jawab pak Mujib

Seketika suara bising anak-anak di luar sekolah hening, karena mereka sudah kembali masuk kelas. Hanya terdengar suara sendok yang berputar dalam gelas kopi dihadapan Danil. Sambil menghisap kreteknya, Danil bertanya kepada pak Mujib dengan serius

“apakah pak Mujib pernah Jatuh cinta?” tanya Danil

“hah? Serius kamu nanya itu?” tanya kepala sekolah kaget

“iya pak, tapi gak di jawab juga gak papa, saya gak akan nanya lagi” jawab Danil lemes

Pak Mujib melirik kearahku, seolah dia minta saran apakah dia harus menjawab. Aku anggukan kepalaku seolah berkata “iya pak jawab, kayanya Danil sedang patah hati”

“pernah, dan sampai sekarang saya selalu jatuh cinta. Saya setiap hari selalu jatuh cinta. Setidaknya ketika melihat kalian mengajar, saya jatuh cinta, ketika melihat anak-anak sekolah, saya jatuh cinta, bahkan sekarang saya mengobrol dengan kalian pun saya jatuh cinta”

“mmmm, tetapi bukan itu maksudku pak” Danil menelan ludah

Pak Mujid melirikku dan tertawa kecil, dia tahu persis maksud dan arah pertanyaan Danil kemana. Dia hanya bergurau, agar Danil sedikit rileks,

“saya tahu maksud pertanyaan kamu apa Danil,… Apakah maksud pertanyaanmu adalah apakah saya pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan? Itukah pertanyaanmu Danil?”

“iya, itu bapak tahu” Danil menganggukan kepalanya

“tentu saja aku pernah jatuh cinta Danil”

Kepala sekolah itu kembali mengambil rokok filternya dan membakarnya untuk menemani dia bercerita.

“kau tahu Danil, minggu kemarin waktu saya dan beberapa guru yang lain cuti untuk pergi berziarah ke makamnya seorang Mursyid di jawa yang mendirikan pesantren dan sekolah ini? Sebenarnya saya tidak hanya berziarah kepada beliau, tapi saya juga sekalian berziarah kepada kekasih saya, seorang perempuan yang saya cintai. Makam mereka kebetulan tidak berjauhan, jadi saya juga tidak perlu mengahabiskan banyak waktu untuk berziarah ke dua tempat sekaligus” kepala sekolah itu menghisap filternya untuk mengambil nafas dalam-dalam. Sementara aku dan Danil masih fokus dan siap mendengarkan kisahnya.

“sekitar tiga puluh tahun yang lalu usiaku baru enam belas tahun, ketika itu orang tua saya mengirim saya ke jawa kedunglo untuk belajar agama dan sekolah disana. Tahun 1993 saya tiba disana. Saya tiba di perkampungan yang asri, sangat jauh dari kota. Rumah rumah disana saat itu masih menggunakan kayu dan bambu yang di anyam oleh tangan kreatif penduduknya. Saat itu saya tiba pas ketika para santri baru mau keluar masjid seusai mendengarkan ceramah dari Kiyai H. Husain Ali Al-fatih, dialah Mursyid dari kebanyakan ulama yang mendakwahkan agama di sini. Saya menghampiri beliau diantara ratusan santri yang sebagian berangsur kembali ke asrama. Yai menerima suratku dan membacanya. Beliau menatapku dari ujung kaki sampai ujung ubun-ubunku. Saya ingat betul saat itu Yai menggunakan Jubah putih dengan udeng dikepalanya. Yai tidak menanyakan tentang perjalanan dan kabar keluargaku. Dia hanya menyuruhku membaca surat Al-fatihah. Saat itu saya langsung membaca surat Al-fatihah dengan lantang. Belum selesai ayat ketiga Yai menyeruku dengan kencang “Ulangi!”. Saya bingung kenapa saya harus mengulanginya, padahal saya yakin tidak ada kesalahan pada bacaan saya. Tetapi saya tidak membantah, saya nurut dan saya ulangi bacaan saya. Lagi-lagi di ayat ketiga Yai menyuruhku untuk mengulanginya kembali. Terus begitu, saya masih ingat waktu itu saya mengulaninya sampai tiga belas kali.”

Aku dan Danil masih fokus mendengarkan. Pak Mujib kembali menceritakan kisahnya dengan sesekali dia meminum kopi yang ada di hadapannya.

“para santri yang hendak beranjak kembali keasrama semua menolehku, dan menontonku yang berkali-kali mengulang surat Al-fatihah. Badanku gemeter, suaraku serak, dan seluruh tubuhku mulai berkeringat dingin. Saya bingung, apa yang salah dari bacaan saya, saya sangat menguasai Surat itu, tetapi kenapa Yai menyuruh saya mengulanginya hingga sampai dua puluh lima kali” pak Mujib diam sejenak untuk minum kopi

“pas dibacaan saya yang ke dua puluh lima Yai menepuk pundakku dan menatapku dengan tajam seraya berkata ‘Muhammad Yususf Al-fatih, di surat ini disebutkan, kalau kamu sudah menghafal 27 juz Al-quran. Bagaimana mungkin kau hafal sebanyak itu sedangkan satu surah pun kau tidak bisa membacanya dengan baik?” wajahku memerah, aku hanya bisa menunduk dan menelan ludahku sendiri. Rasanya saat itu aku ingin menghilang saja diantara ratusan mata santri yang sedang menantapku. Setelah saya dinasehati lalu Yai memanggil seorang santri untuk menunjukan dimana asramaku. Tetapi dia bukan seorang petugas yang Yai tugaskan untuk mengurus asrama, melainkan seorang santriyah bernama Lail Nurmala, dia anak bungsu Yai, dia sepantaran dengan saya. Ternyata saya tidak ditempatkan di asrama layaknya para santri lain, saya ditemptakan di sebuah kamar kecil di belakang rumah Yai sendiri. Saat Lail mengantarku dan menjelaskan peraturan dan tata tertib pesantren dia sempat berkata ‘mas jangan berkecil hati atas sikap Bapak Lail, Bapak tidak maksud mempermalukan Mas, beliau selalu punya alasan untuk melakukan sesuatu”

“waktu berlalu, hingga tak terasa sudah tujuh tahun saya belajar disana. Akhirnya dalam satu kesempatan saya tahu kenapa saat pertama kali saya datang kesini Yai menyuruhku mengulangi bacaan Surat al-fatihah saya hingga dua puluh lima kali. ‘kau memang benar Yusuf saat membaca Surat Al-fatihah itu, tetapi kau hanya membacanya saja, hanya di bibirmu saja, tidak muncul dimata kau, dan tidak muncul di wajah kau’. Kau itu di titipkan oleh sahabatku sendiri, aku bertanggung jawab penuh atas amanat itu. Jadi jangan harap kau aku manjakan, jangan harap segala urusanmu dipermudah di sini’. Setelah itu saya jadi kian semangat belajar.

“diluar kemajuan ilmu dan pembelajaran agamaku, ada sesuatu yang juga mengalami kemajuan. Yaitu perasaanku kepada Lail Nurmala, putri bungsu Kiyai. Setelah pertemuan pertamaku dengan nya waktu itu, saya tidak pernah mengobrol lagi dengannya, hanya berpapasan di area pesantren. Tapi saya tahu Danil, ada sesuatu diantara saya dan Lail. Saya mencintainya dan diapun mencitai saya”

“tiga bulan lagi sebelum saya menyelesaikan pelajaran di pesantren, Yai memintaku agar melanjutkan belajar agama ke mesir, seperti yang beliau juga lakukan. Aku menuruti semua itu, karena kedua orang tua saya juga setuju atas saran dari Yai. Tapi perjalanan itu akan menjadi masalah baru. Bagaimana perasaanku kepada Lail? Bagaimana dengan cintai yang Allah tumbuhkan dihati kami berdua?. Aku bingung, sementara sekolah di mesir bukan waktu yang sebentar. Sekurang-kurangnya adalah empat tahun. Dua bulan sebelum hari keberangkatanku saya beranikan diri untuk melamar Lail. Dihadapan Yai dengan tak membawa kitab atau Al-quran, saya duduk, tangan saya dingin, hati saya berdebar kencang dan saya bilang kalau saya mau melamar Lail.”

Pak Mujib diam sejenak dan tersenyum manis. Aku dan Danil semakin fokus dan penasaran apakah lamarannya kan diterima?

“di luar dugaan, Kiyai tidak marah, dia memanggil Lail dan menanyakannya langsung dihadapanku, apakah dia mau menikah denganku. Lail tak bicara, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Hati saya saat itu benar-benar dalam kondisi yang tak pernah terbayangkan. Apalagi saat Yai memutuskan untuk menikahkan kita paling lama satu bulan sebelum keberangkatan ke Mesir. Saat mendengar itu saya hampir-hampir tak bisa menahan luapan kesenangan dan kebahagiaan yang saya rasakan”.

Pak Mujib berhenti sejenak, dia kembali menyalakan rokoknya yang sempat padam. Lalu dia melanjutkan kisahnya dan menatap Danil lamat-lamat.

“tapi hidup adalah rahasia Allah Danil,” pak Mujib menghisap rokok dan diam lagi

“pak Mujib gak jadi nikah juga?” tanya Danil tak sabaran

Pak Mujib menggeleng “satu minggu sebelum hari pernikahanku dengan kekasihku Lail, Yai mengajak saya dan Lail dan juga Istri Yai untuk pergi Berziarah ke makam orang tuanya Yai. Kita berangkat menggunakan kendaraan yang berbeda, saat itu saya bersama anak Yai yang pertama Mas Ghofur naik motor, sementara Yai, Umi, dan Lail menggunakan mobil” pak Mujib berhenti sejenak dan menyeka matanya yang berkaca-kaca

“minum dulu pak” aku menawarkaan air putih kepada beliau

“kita berangkat dari pondok sekitar jam tujuh pagi, agar sebelum zuhur kita sudah ada kembli di pondok pesantren. Perjalanan pertama Alhamdulillah lancar, tak ada musibah. Namun tidak dengan perjalanan pulang. Posisiku saat itu berada di belakang mobil Yai, karena saya tak berani untuk mendahului mobil Yai. Jalan yang tadinya menanjak kini berbalik menjadi turunan curam.” Pak Mujib lagi-lagi keluar air mata

“Mobil Yai Danil, tiba-tiba hilang kendali, remnya blong. Saat itu belum ada jalur darurat di jalan-jalan yang berbahaya seperti sekarang. Mobil Yai terpuntang panting menabrak tebing tinggi pinggir jalan, walaupun itu tanah, tapi jika yang nabraknya secepat itu maka hancurlah. Allah angkat beliau bersamaan dengan istri dan anaknya.” Pak Mujib menunduk lesu mengingat cerita itu

“tidak ada yang selamat, Yai, Umi dan Lail Allah wafatkan saat itu juga”

“inanillahi wainnailahi rajiun” ucap spontan aku dan Danil bersamaan

“hatiku sakit melihat orang yang aku cintai mengalami kecelakaan yang tak pernah terbayangkan. Kyai H. Hasan Ali Al-fatih dia guruku yang tak pernah menyerah mendidikku, Umi Fatimah dia juga guruku yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri, dan Lail Nurmala, dia kekasih pujaan hatiku yang sebentar lagi kita akan menikah. Tetapi Allah punya kehendak lain.”

Langit-langit panmtri lengang. Danil melihatku seolah dia berkata “aku nyesel sudah bertanya hal itu” ia tidak menyangka kan seperti itu akhir kisahnya

“tak apa Danil, jangan merasa bersalah karena sudah bertanya” ucap pak Mujib seolah dia mendegar apa kata hati Danil

“apakah saya pernah jatuh cinta? Kamu sekarang tahu jawabnnya Danil. Saya tetap berangkat ke mesir menunaikan janjiku kepada Yai. Tapi tak pernah aku lepaskan sorban yang diberikan Yai dan tasbeh yang diberikan Lail ditanganku saat aku bersuci. Minggu kemarin aku ziarahi makam mereka. Karena mereka setiap hari aku jatuh cinta”

“maafkan saya sudah bertanya soal itu” Danil menunduk

“kamu tidak perlu ,minta maaf Danil” pak Mujib menggeleng dan mengusap punggung Danil yang sedari tadi duduk di sebelahnya.

Danil menggeleng ternyata kisahnya hidupnya tak seujung rambut dibanding kisah Pak Mujib.

Komentar